oleh

Aksi Massa Penyelamat DAS Sungai Manggar dan Hutan Bakau

-DAERAH-556 views
KABUPATEN BELITUNG TIMUR, MIP

Massa penyelamat daerah aliran sungai (DAS) Manggar dan hutan bakau (mangrove) melakukan aksi di kawasan aliran Sungai Manggar, Sabtu (20/6). Sungai yang melintasi Kecamatan Manggar, Kabupaten Belitung Timur (Beltim) itu menjadi tempat puluhan pelaku tambang inkonvensional (TI) rajuk ponton. Mereka melakukan aktivitas penambangan di kawasan tersebut.

Massa sebagian besar berasal dari masyarakat nelayan Sungai Manggar, Desa Baru, yang mengais rezeki dengan mencari kepiting, udang, dan ikan di kawasan tersebut. Mereka didampingi Forum DAS Babel, Forum DAS Beltim, Forum DAS Belitung, LKPI Beltim, Komunitas Akar Bakau, dan  Lembaga Aliansi Indonesia. Dengan mengendarai perahu, massa menyusuri Sungai Manggar menuju lokasi penambangan di kawasan hutan bakau di aliran kawasan sungai tersebut. Sesampainya di lokasi penambangan, mereka langsung melakukan orasi meminta kepada penambang untuk menghentikan kegiatannya.

Aksi massa sempat beringas memanas, namun kemudian para penambang akhirnya membongkar sendiri TI rajuk ponton mereka.

Ketua Forum DAS Beltim, Koko Haryanto, yang juga anggota aktif DPRD Beltim, menyesalkan atas masih adanya aktivitas penambangan di kawasan DAS Sungai Manggar.

“Kita tidak melarang melakukan penambangan, namun jangan di kawasan DAS. Silakan menambang di area IUP yang punya izin resmi. Masalah ini sudah berlarut-larut dan sudah dilakukan RDP di DPRD Beltim. Masalah ini jangan dihindari. Mari kita selesaikan bersama dengan lintas sektoral. Ini masalah prioritas yang harus segera diselesaikan. Kami dibentuk (Forum DAS, red) berdasarkan UU No. 10/2016 tentang Aliran Sungai,” ujar Koko.

Sementara itu, perwakilan dari Forum DAS Babel, Budi, berharap ada tindak lanjut agar penambangan rajuk di hutan bakai Sungai Manggar ditertibkan, tidak lagi beroperasi.

“Kita lihatlah sekarang ini terjadi kerusakan oleh TI rajuk di sungai ini. Nelayan sangat terdampak. Kita berharap ada tindak lanjut. Hukum jangan tajam ke bawah tumpul ke atas. Ini ruang hidup mereka (nelayan). Jangan biarkan masyarakat dalam ketidakpastian,” kata Budi.

Beraksi karena lingkungan rusak yang mengakibatkan makin sulit cari nafkah (Foto: Helmi)
Hukum Harus Ditegakkan

Ketua Komonitas Akar Bakau, Yudi Senga, menjelaskan, tujuan aksi ini meminta untuk mensterilkan kawasan hutan bakau dari TI rajuk ponton. Ia meminta kepada kita semua untuk cinta lingkungan hidup, cinta hutan bakau, dan cinta hukum ditegakkan.

“Ini gerakan hati yang cinta Sungai Manggar, cinta lingkungan, cinta hutan mangrove. Kita minta keadilan ditegakkan. Sterilkan Sungai Manggar dan hutan bakau dari penambangan ilegal. Jika satu minggu masih ada penambangan ilegal, jangan salahkan kami untuk bergerak lebih besar berkali-lipat dari yang sekarang ini,” ujarnya.

Iwan Andriansyah, dari bagian Tim Reaksi Ceaksi Badan Penyelamat Aset Negara (TRC BPAN) Lembaga Aliansi Indonesia pun memberikan tanggapan. Ia mengatakan, pihaknya ikut hadir atas permintaan masyarakat untuk mendampinginya.

“Kami dari TRC BPAN diminta masyarakat nelayan Sungai Manggar Desa Baru untuk mendampinginya. Kami siap mendampingi sampai ke mana pun dalam kebenaran dan kebaikan,” kata Iwan singkat.

Beberapa nelayan Desa Baru menyampaikan asipirasinya. Mereka berharap agar hutan bakau Sungai Manggar tidak dirusak dan dikotori.

“Sungai Manggar inilah tempat kami mencari nafkah sudah puluhan tahun, dari bujang hingga aku punya cucu sekarang. Kalau dulu kami dapat hasil ketam satu hari bisa belasan kilo, sekarang sejak sungai ini kotor, hutan bakau rusak, penghasilan kami cuma dua-tiga kilo satu hari. Kami berharap jangan dikotori dan dirusak Sungai Manggar ini. Kami sekarang waswas ke sungai, sekarang banyak buaya timbul,” tutur mereka. (Helmi)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *