oleh

Geseran Anggaran Pemerintah Lawan Covid-19, Awak Media tak Dipandang?

-OPINI-32 views
oleh Helmi M. Fadhil
(Sekretaris Kelompok Kerja Wartawan Belitung Timur)

Dalam situasi bahaya penyebaran virus korona (covid-19), pers tetap mengabarkan dengan fokus mengedukasi masyarakat tentang tata cara agar terhindar dari infeksi covid-19. Jelas bukan tidak berisiko, namun bagi jurnalis pekerjaan yang ia lakukan demi keselamatan bangsa dan negara. Karena itu, dengan membaca bismillah, seorang jurnalis tetap melaksanakan tugasnya.

Bagi beberapa kelompok warga, kebijakan lockdown, karantina mandiri, isolasi lokal, atau apa pun namanya, tidaklah begitu merepotkan, terutama bagi pegawai pemerintah atau pengusaha mapan. Kelompok warga ini, walau di level kepegawaian rendahan sekalipun, masih memiliki harapan untuk mendapatkan tunjangan pembiayaan hidup sehari-hari. Minimal dari gaji bulanan mereka.

Pemerintah semestinya tidak melupakan kalangan jurnalis sebagai bagian dari rakyat Indonesia yang wajib diayomi dan dilindungi hidupnya. Merekalah yang setiap hari mencari berita, menghimpun berita yang layak diberitakan sebagai informasi maupun edukasi.

Pemerintah seyogyanya juga memberikan kepada jurnalis akses ke sumber-sumber ekonomi yang ada di lingkungan pemerintah, baik dari alokasi APBN/APBD maupun bentuk bantuan lainnya. Pemanfaatan keuangan yang bersumber dari dana CSR (corporate social responsibility) perusahaan yang ada di daerah masing-masing dapat dimaksimalkan membantu warga masyarakat terdampak, termasuk kalangan wartawan.

Kondisi itu merupakan situasi yang dihadapi ratusan ribu jurnalis se-Indonesia. Kehidupan mereka juga amat memprihatinkan, hidup dari hari ke hari dengan pendapatan yang seadanya.

Demikian juga kondisi wartawan, khususnya di wilayah Beltim dan umumnya wartawan se-NKRI yang hampir bernasib sama akibat adanya kebijakan yang diambil oleh pemerintah pusat maupun daerah yang memberlakukan “isolasi lokal, karantina mandiri” sehingga berdampak pada awak media dan masyarakat

Wartawan Indonesia adalah salah satu kelompok rakyat yang selama ini terabaikan di negerinya sendiri, terlebih di daerah. Taraf perekonomian kebanyakan para jurnalis tergolong berada di bawah garis pra-sejahtera. Pada kondisi saat ini, dengan istilah adanya “lockdown, karantina lokal, isolasi wilayah” atau apa pun nama lainnya, akan lebih membuat jurnalis dan masyarkat semakin terpuruk. Untuk itu, adakah solusi yang lebih tepat? (***)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *