oleh

Pemberantasan Korupsi di Negeri Tersangka?

-OPINI-34 views
Oleh: Ozzy Sulaiman Sudiro, Ketua Umum KWRI/Sekjen Majelis Pers

Lembaga pemberantasan korupsi, KPK, di tengah wabah covid-19 nyaris tak terdengar karena mesin penggerak seakan pupus tak berdaya melawan arus. Ternyata korona dan korupsi penangkalnya sama, yaitu cuci tangan dan tutup mulut mana yang dimakan dan mana yang disikut.

Korupsi telah menjadi budaya bodoh orang Indonesia. Dari anak SD sampai S3, hingga lulus, kerja dan menjadi pejabat berkuasa, bahkan pengusaha besar ataupun kecil juga ikut korupsi. Budaya korupsi memang telah mendarah daging dan akan sulit dihilangkan. Kecuali, ada rekontruksi negara yang valid dan dapat diterima masyarakat, ketidakadilan inilah yang mengawali budaya korupsi.

Hilangnya budaya rasa malu kian hari kian pudar, karena segala kebutuhan hidup para pejabat belum terbayar? Bahkan, urat malu pun sudah putus oleh syahwat yang begitu rakus, tak peduli rezeki hasil haram, asal diam-diam tidak ketahuan.

Hanya budaya malu inilah yang mampu memfilter sifat dan karakter bangsa ini, yang semestinya perlu dilestarikan sebagai pusaka warisan leluhur yang taat dan patuh pada kultur, tradisi peninggalan nenek moyang kita bangsa yang berbudi luhur, bermartabat penuh tafakur

Kemarin mungkin tak menyangka atau menduga bahkan tercengang ketika mata dan telinga kita setiap hari disuguhkan oleh media-media atas tertangkapnya “para bedebah” itu. Seperti sirkus badut penuh lelucon, berakrobat di pasar malam, sebagai pelepas lelah hiburan akhir pekan.

Ada mantan pejabat yang harap-harap cemas (H2C) membuat hidup jadi ngga waras, ketar-ketir seperti takut tersambar petir. Menggangu istirahatnya tidur di siang bolong, walau ketika bangun tinggal menikmati sisa kontrak hidup yang sebentar lagi berakhir, selalu terbelenggu dibayangi oleh dosa-dosa perbuatan di masa lalu.

Ada juga yang baru belajar coba-coba korupsi untuk beraksi, namun nahas nasibnya terciduk OTT KPK lagi. Sebuah malapetaka bagi keluarga, lalu mengeluh dijebak alasan politik, dengan tersenyum penuh munafik.

Masih banyak tabir rahasia yang belum terungkap di republik ini, seperti kasus BLBI, E-KTP, Hambalang, Jiwasraya, Asabri, Bank Century, Pelindo II, Kota Waringin Timur dan masih banyak lagi. Atau, sebaliknya tertutup dan ditutup-tutupi oleh “politik-cinta” yang penuh kasih sebagai bentuk balas budi? Atau, mungkin sama-sama mengetahui rahasia masing-masing pribadi, sebagai alumnus satu perguruan tinggi di fakultas MDR (maling duit rakyat).

Tanpa disadari semua tinggal menghitung hari, aman jeratan hukum duniawi, namun hukum akhirat kini setiap saat menanti. Gugur satu tumbuh seribu. Semuanya tinggal menunggu. Ini hanya soal waktu. Satu per satu mulai tertuju karena KPK harus memburu. Jangan harap sembunyi di balik lugu, tetap tersenyum walau tanpa rasa malu.

Kalau saja negara yang subur rakyat belum makmur ini adil menyirami jasmani anak negeri, para pejabat tidak lagi berkhianat agar hidup tidak terlaknat, dan semua para penegak hukum jujur berkomitmen pada bangsa dan negara, terutama pada hati dan nuraninya untuk tidak korupsi.

Setidaknya budaya korupsi mulai ditinggali karena buat apa lagi korupsi semua sudah tercukupi. Lalu, untuk apa lagi ada lembaga pemberantasan korupsi. Pertanyaannya, apakah ini semua hanya mimpi atau sebuah harapan semangat anak negeri denga penuh kesadaran diri untuk mengabdi pada Ibu Pertiwi, sebelum ajal napas di ujung mati. (***)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *