oleh

Polsek Sepatan Damaikan Pelajar SMP dan Santri PHB

-DAERAH-44 views

KABUPATEN TANGERANG, MIP

Melalui langkah problem solving, Kapolsek Sepatan, AKP I Gusti Moh. Sugiarto, S.H., didampingi Wakapolsek Iptu Suradi, berhasil mendamaikan seorang pelajar SMP swasta di wilayah Sepatan dengan para santri Pecinta Habib Bahar (PHB), Rabu (26/2).

AKP I Gusti mengatakan, kejadian berawal dari ucapan Danu Arya Dadi, pelajar SMP kelas IX, diduga melontarkan kata-kata penghinaan terhadap PHB. Tanpa sadar telah ucapan Danu direkam diam-diam oleh Aldi Maulana, teman sekelasnya, lalu yang disebarnya ke grup akun WhatsApp pada Selasa (25/2).

“Melihat video yang disebar Aldi Maulana, para PHB merasa tidak terima dengan ucapan yang ada dalam video tersebut. Lalu, berujung pengepungan massa PHB ke tempat Danu bersekolah,” ujar Kapolsek AKP I Gusti saat jumpa pers di Mako Polsek Sepatan.

Ia menambahkan, mendapatkan laporan kejadian tersebut, Kapolsek Sepatan mencoba melakukan langkah persuasif dengan mengajak rekan-rekan dari Front Pembela Islam (FPI) dan Front Santri Indonesia (FSI) untuk berkomunikasi dengan pihak PHB, serta melibatkan pihak sekolah.

Dengan pendekatan itu, Ketua FPI Sepatan, Dedi Supriadi, dan Ketua FSI Sepatan, Sahrul Munawar, mengajak pihak PHB untuk menyelesaikan secara kekeluargaan ke Polsek Sepatan agar pihak polsek ikut menengahi permasalahan Dani dengan PHB, sehingga permasalahan tidak melebar.

“Beredarnya video yang viral di grup WhatsApp dan medsos yang seolah-olah akan ada tawuran pelajar dengan komunitas PHB ternyata setelah diklarifikasi hanya sebuah gurauan, namun di viralkan oleh rekan satu kelasnya,” tutur I Gusti

Meski sempat membuat gaduh, lanjutnya, tetapi persoalan tersebut dapat diatasi berkat kerja sama antara pihak kepolisian, FPI, FSI, dan PHB.

Pada akhir mediasi, Danu, yang pada saat itu didampingi ibu kandungnya, mengucapkan permohonan maaf, serta tidak akan mengulangi perbuatannya.

“Saya minta maaf kepada seluruh PHB se-Indonesia. Saya ngga nyangka kalau ucapan saya direkam dan disebarkan. Saya menyesal tidak akan mengulanginya lagi,” ungkap Danu dengan kepala menunduk.

Langkah problem solving merupakan penyelesaian masalah secara kekeluargaan untuk menempuh jalan damai, saling memaafkan, dan tidak mempermasalahkan lagi atas apa yang sudah terjadi. Karena itu, dibuatlah surat pernyataan damai, yang ditandatangani oleh Danu dan orangtuanya, pihak PHB yang merasa dirugikan. Pernyataan damai tersebut disaksikan oleh pihak kepolisian, Ketua FPI dan Ketua FSI, tanpa ada tekanana dari pihak mana pun. (Sholeh/Yasin)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *